TANJUNG SELOR, tanjungselor.id – Suasana hangat dan penuh keakraban mewarnai acara buka puasa bersama yang digelar Gubernur Kalimantan Utara, Zainal Arifin Paliwang, bersama insan pers se-Kaltara di Cendana Resto, di hari – hari terakhir Ramadhan 1447 hijriah, Rabu (18/3/2026) lalu.
Kegiatan ini bukan sekadar ajang berbagi hidangan berbuka, tetapi juga menjadi ruang mempererat silaturahmi dan membangun sinergi antara pemerintah dan media.
Didampingi jajaran Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik, dan Persandian (DKISP) Kaltara, serta dihadiri puluhan jurnalis dari berbagai perusahaan media, suasana terasa cair dan penuh canda. Namun di balik kebersamaan itu, terselip sebuah momen sederhana yang justru mencuri perhatian.
Usai berbuka puasa, para tamu bergegas melaksanakan shalat berjamaah. Tanpa banyak yang menyadari, Gubernur justru terlihat berada di shaf paling belakang—bahkan sempat terekam kamera seorang wartawan saat tengah khusyuk menjalankan ibadah seorang diri di barisan terakhir.
Momen ini pun menjadi bahan gurauan ringan dalam bincang santai. Seorang wartawan bertanya, mengapa seorang kepala daerah bisa berada di posisi paling belakang saat shalat berjamaah.
Dengan santai, Gubernur menjelaskan bahwa hal tersebut murni karena dirinya datang terlambat bergabung setelah menyelesaikan makan dan berwudhu.
“Di mata Tuhan kita semua sama, tidak ada urusan dengan pangkat dan jabatan. Tidak peduli kamu siapa,” ujarnya.
Lebih jauh, ia menegaskan bahwa dalam ibadah tidak ada keistimewaan berdasarkan status. Siapa pun yang datang terakhir, maka harus menempati posisi di belakang, tanpa pengecualian.
“Jangankan Gubernur, siapa pun, bahkan cucu nabi sekalipun, kalau datang terlambat, tetap di belakang. Apalagi saya yang cuma Gubernur,” tuturnya merendah.
Ia juga menambahkan, dalam shalat berjamaah, tidak ada ego jabatan. Bahkan jika imam adalah stafnya sendiri, ia tetap wajib mengikuti dengan penuh khidmat.
Menurutnya, esensi shalat bukanlah soal posisi di barisan depan atau belakang, melainkan niat dan kekhusyukan dalam beribadah.
“Kita shalat itu berlomba-lomba mencari rahmat Allah, bukan berlomba supaya dapat shaf paling depan. Nilainya tetap sama, yang penting niat dan khusyuk,” tutupnya.
Momen sederhana ini pun menjadi pengingat kuat tentang nilai kesetaraan, kerendahan hati, dan makna sejati ibadah—bahwa di hadapan Tuhan, semua manusia berdiri sejajar tanpa sekat jabatan maupun status sosial. (*)





