BULUNGAN, tanjungselor.id– Di daerah yang kerap digaungkan sebagai ladang subur lahirnya energi dan gagasan muda, satu pertanyaan kini mengemuka dengan nada yang kian lantang: masihkah KNPI Bulungan benar-benar hidup, atau hanya tersisa sebagai simbol tanpa denyut?
Sorotan tajam datang dari dua organisasi kepemudaan besar, yakni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI). Keduanya kompak menyuarakan kegelisahan yang sama—kecewa, kritis, dan mempertanyakan arah organisasi yang seharusnya menjadi payung besar pemuda.
PMII Bulungan bahkan tidak ragu menyebut kondisi saat ini sebagai “mati suri”. Sebuah istilah keras untuk menggambarkan organisasi yang secara struktur masih berdiri, namun dinilai kehilangan denyut aktivitas. Minimnya program kerja, tidak adanya dialog terbuka dengan organisasi kepemudaan lain (OKP), hingga lemahnya koordinasi internal menjadi catatan serius.
“KNPI ini mau dibawa ke mana?”—pertanyaan yang bukan sekadar retorika, melainkan alarm keras bagi eksistensi organisasi.
Dari sisi lain, GAMKI Bulungan melalui ketuanya, Dennis Yosafat, menyoroti dua persoalan mendasar. Pertama, adanya rangkap jabatan yang dinilai berpotensi mengganggu independensi organisasi. Kedua, mandeknya komunikasi internal—tanpa rapat rutin, tanpa konsolidasi, tanpa arah yang jelas.
Padahal, dalam tubuh Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), aturan organisasi seperti AD/ART seharusnya menjadi kompas utama. Ketika kompas itu diabaikan, kapal organisasi pun rawan kehilangan arah.
Kritik tak hanya datang dari kalangan aktifis muda. Suara dari senior turut menguatkan. H Alwan Saputra, yang pernah memimpin KNPI, menegaskan bahwa organisasi ini semestinya fokus pada kerja nyata—merangkul seluruh OKP, membangun sinergi hingga ke tingkat kecamatan, serta hadir sebagai ruang kolaborasi, bukan sekadar formalitas. “KNPI bukan milik segelintir orang. Ini rumah bersama pemuda,” tegasnya.
Situasi ini menjadi cerminan krisis yang lebih dalam: ketika organisasi yang seharusnya menjadi motor penggerak justru terjebak dalam stagnasi. Bukan hanya soal program yang tak berjalan, tetapi juga hilangnya kepercayaan dari basis yang seharusnya menjadi kekuatannya—para pemuda itu sendiri.
Kini publik menunggu. Apakah KNPI Bulungan akan berbenah dan kembali menjadi ruang hidup bagi gagasan dan gerakan pemuda? Ataukah tetap menjadi organisasi “bayangan”—ada nama, tapi tak terasa kehadirannya?
Jawabannya akan menentukan: apakah KNPI masih relevan, atau perlahan ditinggalkan zaman. (*)





