NUNUKAN, tanjungselor.id – Pemerintah Kabupaten Nunukan terus memperkuat upaya percepatan penurunan stunting melalui intervensi gizi, peningkatan kualitas kesehatan lingkungan, serta penguatan akses masyarakat terhadap air minum layak. Langkah ini menjadi bagian dari komitmen pemerintah daerah dalam meningkatkan kualitas kesehatan dan tumbuh kembang anak, sekaligus mempersiapkan generasi yang sehat dan berkualitas.
Berdasarkan informasi yang diberitakan Koran Kaltara, prevalensi stunting di Kabupaten Nunukan tercatat sebesar 11,7 persen. Meski angka tersebut menunjukkan capaian yang perlu dipertahankan, tantangan masih dihadapi, terutama dalam pemenuhan akses air minum yang belum mencapai target.
Kondisi ini menegaskan bahwa penanganan stunting tidak cukup hanya melalui pemberian makanan tambahan atau pelayanan kesehatan. Perbaikan gizi anak harus berjalan beriringan dengan pemenuhan kebutuhan dasar keluarga, termasuk ketersediaan air minum layak, sanitasi, dan penerapan perilaku hidup bersih dan sehat.
Perkuat Kolaborasi Lintas Perangkat Daerah
Pemkab Nunukan telah menyiapkan Rencana Aksi Daerah Pangan dan Gizi Berbasis Potensi Sumber Daya Lokal (RAD-PGBPSDL) Tahun 2025–2029 sebagai salah satu instrumen untuk memperkuat ketahanan pangan dan mempercepat perbaikan status gizi masyarakat.
Dalam rencana tersebut, terdapat 12 strategi dan 28 aksi yang diarahkan untuk mengoptimalkan potensi pangan lokal, mempercepat penurunan stunting, serta meningkatkan penerapan perilaku hidup bersih dan sehat.
Penjabat Sekretaris Daerah Kabupaten Nunukan, Drs. H. Raden Iwan Kurniawan, M.A.P., menekankan pentingnya sinergi antarpemangku kepentingan agar program pangan dan gizi tidak berjalan sendiri-sendiri.
Menurutnya, perencanaan harus diterjemahkan menjadi program yang terukur, memiliki pembagian tanggung jawab yang jelas, serta memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Dengan pendekatan lintas sektor, upaya penanganan stunting diharapkan tidak hanya berfokus pada anak yang telah mengalami gangguan pertumbuhan, tetapi juga menyasar keluarga berisiko sejak dini.
Akses Air Minum Layak Berperan Penting
Selain pemenuhan gizi, ketersediaan air minum layak menjadi salah satu aspek penting yang perlu mendapat perhatian dalam pembangunan kesehatan masyarakat.
Air yang tidak aman dan sanitasi yang buruk dapat meningkatkan risiko penyakit infeksi, termasuk diare. Kondisi tersebut dapat mengganggu penyerapan zat gizi dan berdampak pada pertumbuhan anak.
Karena itu, peningkatan akses air minum layak perlu berjalan beriringan dengan penguatan pelayanan kesehatan ibu dan anak, pemantauan tumbuh kembang balita, serta edukasi mengenai kebersihan lingkungan.
Pemerataan akses air minum juga menjadi tantangan tersendiri bagi Kabupaten Nunukan yang memiliki wilayah kepulauan, pesisir, daratan, hingga kawasan pedalaman dan perbatasan.
Pembangunan sarana air minum perlu memperhatikan kondisi geografis dan kebutuhan masing-masing wilayah agar manfaatnya dapat dirasakan secara merata, termasuk oleh keluarga yang tinggal jauh dari pusat pelayanan.
Intervensi Dimulai dari Keluarga
Pemkab Nunukan juga mendorong penguatan peran keluarga dalam mencegah stunting, terutama melalui pemenuhan gizi ibu hamil, ibu menyusui, bayi, dan balita.
Pemanfaatan pangan lokal yang beragam, bergizi, seimbang, dan aman menjadi salah satu pendekatan yang dapat dikembangkan sesuai potensi daerah.
Di sisi lain, pelayanan Posyandu, pemantauan pertumbuhan anak, edukasi pemberian makanan pendamping ASI sesuai usia, serta pemeriksaan kesehatan secara berkala perlu terus diperkuat.
Keterlibatan kader kesehatan, pemerintah desa, tenaga kesehatan, dan keluarga sangat penting untuk memastikan anak-anak yang membutuhkan penanganan dapat teridentifikasi lebih awal.
Upaya tersebut sejalan dengan penguatan program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING) yang turut mendorong keterlibatan masyarakat dalam membantu keluarga berisiko melalui dukungan nutrisi maupun bantuan nonnutrisi.
Target Harus Diikuti Hasil Nyata
Capaian prevalensi stunting sebesar 11,7 persen menjadi salah satu indikator yang perlu diperhatikan dalam mengevaluasi keberhasilan program kesehatan di Kabupaten Nunukan. Namun, angka tersebut bukan alasan untuk mengendurkan upaya pencegahan dan penanganan.
Pemerintah daerah perlu terus memastikan program yang telah direncanakan berjalan efektif, terutama dalam menjangkau keluarga berisiko, meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan dasar, dan memperluas akses air minum layak.
Pemantauan berkala juga diperlukan untuk memastikan intervensi benar-benar menjangkau kelompok sasaran dan menghasilkan perubahan yang dapat diukur.
Dengan kolaborasi pemerintah daerah, pemerintah desa, tenaga kesehatan, dunia usaha, dan masyarakat, percepatan penurunan stunting diharapkan semakin optimal.
Pada akhirnya, keberhasilan pembangunan kesehatan bukan hanya diukur dari turunnya angka prevalensi, tetapi juga dari semakin mudahnya masyarakat memperoleh layanan kesehatan, makanan bergizi, air minum layak, dan lingkungan yang sehat. (*/adv)





