Bebatu Jadi Contoh Harmoni Mangrove dan Tambak di Kaltara

Sabtu, 11 Oktober 2025 11:38 WITA

TANA TIDUNG, tanjungselor.id – Desa Bebatu di Kecamatan Sesayap Hilir, Kabupaten Tana Tidung, Kalimantan Utara, menjadi salah satu contoh nyata praktik silvofishery, yaitu sistem budidaya yang memadukan tambak dengan tanaman mangrove.

Bebatu merupakan satu dari tujuh desa yang membentang di sepanjang Sungai Sesayap. Wilayahnya mencapai sekitar 210 ribu hektare dan menjadi pintu gerbang bagian timur menuju pusat pemerintahan Kabupaten Tana Tidung.

Potensi tambak di wilayah ini tergolong besar, dengan luas mencapai sekitar 28 ribu hektare. Komoditas utama yang dibudidayakan masyarakat adalah ikan bandeng dan udang.

“Potensi tambak di Bebatu cukup besar untuk dikembangkan secara berkelanjutan, apalagi jika dikelola dengan memperhatikan keseimbangan ekosistem,” tulis Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Utara, Nur Laila, dalam unggahan di media sosial Dishut Kaltara, pekan ini.

Upaya menjaga keseimbangan itu mulai dilakukan sejak 2019. Saat itu, Dinas Kehutanan Kalimantan Utara menanam mangrove di beberapa area tambak milik warga. Pohon-pohon mangrove yang kini tumbuh di sela tambak berperan penting menjaga kualitas air, menahan abrasi, serta menjadi habitat alami bagi ikan dan udang.

“Menanam mangrove di tambak bermanfaat menjaga kualitas air, meningkatkan produktivitas, dan sekaligus menjadi bentuk nyata pelestarian lingkungan,” ujarnya.

Dampak positifnya kini dirasakan langsung oleh warga. Hj. Latif, salah satu pemilik tambak di Bebatu, mengaku kondisi tambaknya jauh lebih baik dibanding sebelumnya.

“Semenjak tambak kami ditanami mangrove, kualitas tanah dan air membaik. Itu juga mempengaruhi hasil panen,” ujarnya.

Dengan keberhasilan tersebut, Desa Bebatu diharapkan dapat menjadi model percontohan pengelolaan tambak berkelanjutan berbasis lingkungan di Kalimantan Utara. (*/adv)

Bagikan:
Berita Terkait