Produksi 300 Kg Daging Ikan per Bulan, Rumah Produksi Ikan di Tanjung Palas–Bulungan Mampu Tampung 900 Kg Ikan Hasil Tangkapan Nelayan

Rabu, 10 Desember 2025 08:30 WITA

BULUNGAN, tanjungselor.id – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bulungan, melalui Dinas Perikanan (Diskan), terus mendorong perluasan rumah produksi pengolahan ikan, sebagai upaya memperkuat ekonomi kerakyatan berbasis potensi lokal.

Setelah sebelumnya ada 11 rumah produksi ikan di beberapa kecamatan di Bulungan, bertepatan dengan peringatan Hari Nusantara pada Senin (08/12/2025) Bupati Bulungan Syarwani kembali meresmikan 6 unit rumah produksi pengolahan ikan di Kecamatan Tanjung Palas.

“Alhamdulillah, hari ini kita resmikan rumah produksi pengelolaan ikan sebanyak enam unit. Masih banyak lokasi lain yang bisa dikembangkan, seperti di Siandau, Liagu wilayah Antal hingga Tias. Di sana potensi bahan bakunya besar,” kata Syarwani.

Ia menegaskan, pengembangan rumah produksi tidak hanya berorientasi pada peningkatan nilai tambah hasil perikanan, tetapi juga diarahkan untuk pemberdayaan masyarakat, khususnya para ibu-ibu.

“Tujuannya agar ada aspek pemberdayaan, terutama bagi ibu-ibu, sehingga mereka memiliki kegiatan pengolahan yang produktif,” katanya.

Syarwani mencontohkan rumah produksi yang telah berjalan di Lebong, Kelurahan Tanjung Palas Hilir, yang kini memproduksi daging olahan berbahan ikan, sebagai bahan baku pembuatan bakso ikan, hingga amplang

“Di Lebong sudah berjalan kegiatan produksi daging ikan. Di mana sudah ada pasarnya, seperti pembuat bakso ikan, amplang dan lainnya. Ini terbukti memberikan nilai ekonomi,” ungkapnya.

Dari sisi kapasitas, rumah produksi tersebut mampu menghasilkan sekitar 300 kilogram (kg) daging ikan per bulan. Dengan rerata produksi sekitar 10 kg per hari.

“Produksinya bisa 10 kg per hari, totalnya sekitar 300 kilo per bulan, dan harga jualnya juga cukup lumayan,” jelasnya.

Untuk bahan baku, berupa ikan bulan-bulan, rumah produksi yang beranggotakan 10 orang itu tidak khawatir. Hingga saat ini, sedikitnya ada 10 nelayan yang rutin menjual ikan ke tempat itu. Dengan rata-rata per-bulan bisa menampung 900 kg ikan atau hampir 1 ton.

“Jadi hitungannya 3 kg ikan, menghasilkan 1 kg daging. Dengan harga jual yang jauh lebih tinggi,” ujarnya.

Ia menambahkan, hasil produksi itu tidak kesulitan pasar karena telah terserap oleh pelaku usaha kuliner lokal.

“Pemasarannya diambil oleh pengusaha kuliner, terutama penjual bakso yang berbasis ikan,” katanya.

Di sisi lain, rumah produksi ikan ini juga bisa diintegrasikan untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai sumber protein alternatif.

“Tidak semuanya harus daging. Ikan juga bisa menjadi sumber protein, dan ini bisa disambungkan dengan dukungan terhadap MBG,” tegasnya.

Untuk memperkuat kualitas produk, Pemda Bulungan mendorong kolaborasi lintas sektor, mulai dari aspek keamanan pangan, sertifikasi, hingga kemasan.

“Saya berterima kasih karena BPOM hadir langsung memberi dukungan, termasuk dari Kementerian Agama dan MUI terutama dalam sertifikasi halal,” ujarnya.

Syarwani juga menekankan peran DKUKMPP Bulungan dalam meningkatkan kualitas kemasan produk.

“Termasuk DKUKMPP Bulungan  soal kemasan. Ini yang akan kita sinkronkan, nanti Dinas Perikanan akan berdiskusi lebih lanjut dengan DKUKMPP Bulungan  supaya kemasannya lebih menarik,” kata bupati.

Selain itu, hal lain yang tak kalah penting untuk menjadi perhatian adalah pengelolaan lingkungan. Utamanya limbah. Setiap rumah produksi harus memiliki IPAL (instalasi pengelolaan limbah).

“Untuk itu, melalui Dinas perikanan selaku pembina, saya minta berkoordinasi dengan dinas lingkungan hidup. Saya harap tidak ada persoalan ke depannya. Semua harus bagus, higienis, dan ramah lingkungan,” pungkasnya. (*)

Bagikan:
Berita Terkait