NUNUKAN, tanjungselor.id – Tradisi mabettang yang selama ini lekat dengan kehidupan masyarakat pesisir Nunukan mulai dilihat lebih jauh. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nunukan mendorong agar kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai aktivitas masyarakat, tetapi dikembangkan menjadi sebuah event potensial yang mampu memperkenalkan budaya lokal sekaligus menggerakkan perekonomian daerah.
Mabettang merupakan aktivitas masyarakat yang berkaitan erat dengan pengikatan bibit rumput laut sebelum dibudidayakan. Di balik aktivitas sederhana tersebut, tersimpan cerita tentang kehidupan, kerja keras dan ketergantungan masyarakat pesisir terhadap sumber daya laut.
Potensi inilah yang dinilai dapat dikemas menjadi agenda daerah yang dilaksanakan secara berkelanjutan.
Pemkab Nunukan melihat pelaksanaan Mabettang sebagai momentum untuk memperkenalkan kehidupan masyarakat pesisir kepada masyarakat luas. Jika dikemas secara kreatif, kegiatan tersebut bukan hanya menjadi tontonan, tetapi juga ruang untuk memperkenalkan tradisi, produk lokal, kuliner, kerajinan serta potensi ekonomi masyarakat.
Dorongan agar Mabettang dilaksanakan secara berkelanjutan juga sejalan dengan kebutuhan untuk menghadirkan kegiatan daerah yang memiliki karakter khas Nunukan.
Selama ini, banyak kegiatan masyarakat yang memiliki nilai budaya dan ekonomi, namun belum semuanya dikemas menjadi agenda yang konsisten dan memiliki daya tarik wisata.
Mabettang dinilai memiliki peluang untuk mengisi ruang tersebut.
Bukan Sekadar Event, tetapi Identitas Masyarakat
Pengembangan Mabettang menjadi event daerah memiliki arti lebih luas. Kegiatan ini dapat menjadi cara untuk menjaga tradisi masyarakat agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Generasi muda dapat dilibatkan dalam berbagai sisi penyelenggaraan, mulai dari pengenalan tradisi, dokumentasi, promosi digital, hingga pengembangan produk kreatif.
Dengan demikian, Mabettang tidak hanya berbicara mengenai aktivitas mengikat bibit rumput laut, tetapi juga tentang bagaimana sebuah tradisi masyarakat dapat menjadi bagian dari identitas daerah.
Jika dikelola secara konsisten, event ini berpotensi menjadi salah satu agenda khas Nunukan yang ditunggu masyarakat setiap tahun.
Membuka Ruang Ekonomi Masyarakat
Dampak lain yang diharapkan adalah terbukanya peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Saat sebuah event dikembangkan secara berkelanjutan, aktivitas ekonomi pendukung ikut bergerak. Pelaku UMKM dapat menjajakan produk makanan dan minuman, hasil olahan rumput laut, kerajinan serta berbagai produk khas daerah.
Pelaksanaan event juga berpotensi mendorong kunjungan masyarakat dari luar daerah. Kondisi tersebut dapat memberikan efek berganda bagi pelaku usaha lokal, transportasi, akomodasi hingga sektor pariwisata.
Karena itu, pengembangan Mabettang idealnya tidak hanya menjadi agenda pemerintah, tetapi melibatkan masyarakat sebagai pelaku utama.
Pemerintah dapat berperan dalam penguatan konsep, promosi, fasilitas dan kesinambungan agenda, sementara masyarakat menjadi pemilik sekaligus penggerak tradisi tersebut.
Dari Tradisi Lokal Menuju Agenda Tahunan
Mabettang memiliki modal penting untuk dikembangkan: cerita masyarakat, aktivitas ekonomi nyata dan karakter lokal yang kuat.
Tantangannya adalah bagaimana mengemasnya agar menarik tanpa menghilangkan nilai tradisinya.
Konsep acara dapat dikembangkan secara bertahap dengan menggabungkan unsur budaya, edukasi, ekonomi kreatif, kuliner dan pariwisata. Dengan perencanaan yang matang, Mabettang tidak hanya menjadi kegiatan sesaat, tetapi dapat tumbuh sebagai agenda tahunan yang memiliki identitas kuat.
Lebih jauh, keberlanjutan event juga membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Pemerintah daerah, pemerintah desa, pelaku usaha, komunitas, pelaku UMKM, kelompok pembudidaya rumput laut hingga generasi muda perlu berada dalam satu ekosistem.
Sebab, kekuatan utama Mabettang justru berada pada masyarakat yang menjalankannya.
Pada akhirnya, Mabettang bukan sekadar tentang bagaimana bibit rumput laut diikat.
Di dalamnya ada cerita tentang masyarakat pesisir yang bekerja, bertahan dan menggantungkan kehidupan pada laut.
Jika cerita tersebut mampu dikemas dengan baik, Mabettang berpeluang berubah dari sebuah tradisi sehari-hari menjadi identitas budaya sekaligus event unggulan Kabupaten Nunukan yang memiliki nilai sosial, ekonomi dan pariwisata.
Dan yang paling penting, tradisi itu tetap hidup—bukan hanya dipertontonkan, tetapi diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. (*/adv)





