Dari Perbatasan ke Panggung Nasional, Kreativitas Perajin Batik Nunukan Tembus Kriyanusa 2026

Kamis, 1 Oktober 2026 08:05 WITA

NUNUKAN, tanjungselor.id – Kreativitas perajin Kabupaten Nunukan kembali mendapat ruang di panggung nasional. Melalui keikutsertaan dalam Pameran Kerajinan Nusantara (Kriyanusa) 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Senayan, Jakarta, Pemerintah Kabupaten Nunukan bersama Dekranasda Nunukan membawa kekayaan budaya dan produk kreatif daerah untuk diperkenalkan kepada masyarakat yang lebih luas.

Mengusung semangat “Cipta Kriya Berkelanjutan, Perajin Mendunia”, kehadiran Nunukan tidak sekadar menjadi etalase produk kerajinan. Momentum tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas promosi, membangun jejaring usaha, membuka peluang pasar, sekaligus meningkatkan kepercayaan diri para perajin lokal untuk mengembangkan karya hingga mampu bersaing di tingkat nasional.

Ketua Dekranasda Kabupaten Nunukan, Andi Annisa Muthia, hadir langsung dalam pembukaan Kriyanusa 2026. Dalam kesempatan tersebut, Nunukan menampilkan sejumlah potensi unggulan, mulai dari Batik Lulantatibu, kerajinan anyaman rotan, hingga karya desainer tangan penyandang disabilitas.

Keragaman tersebut memperlihatkan bahwa kekuatan ekonomi kreatif Nunukan tumbuh dari banyak sumber. Tidak hanya bertumpu pada produk, tetapi juga pada keterampilan, kreativitas, bahan lokal, serta kekayaan cerita budaya yang melekat pada masyarakat perbatasan.

Batik Lulantatibu, Identitas yang Terus Dikembangkan

Salah satu karya yang menjadi perhatian adalah Batik Lulantatibu, yang telah menjadi salah satu identitas kerajinan khas Nunukan.

Di sela kegiatan Kriyanusa, Andi Annisa Muthia bersama Ketua Dekranasda Provinsi Kalimantan Utara, Rahmawati Zainal, turut memperlihatkan proses pengembangan Batik Lulantatibu melalui kegiatan mengukir motif secara langsung pada kain.

Aktivitas tersebut memberikan pesan bahwa pelestarian budaya tidak berhenti pada penggunaan atau pameran produk. Di balik selembar kain terdapat pengetahuan, keterampilan, ketekunan dan kreativitas yang perlu terus diwariskan kepada generasi berikutnya.

Karena itu, pengembangan kerajinan daerah perlu berjalan beriringan antara pelestarian identitas budaya dan inovasi produk.

“Identitas budaya harus tetap kita jaga, tetapi cara kita mengemas dan memasarkannya harus terus berkembang,” ujar Andi Annisa.

Pesan tersebut menjadi penting di tengah perkembangan industri kreatif yang semakin kompetitif. Motif dan karakter lokal tetap menjadi kekuatan utama, sementara desain, kualitas, kemasan dan strategi pemasaran perlu terus disesuaikan dengan kebutuhan pasar.

Karya Lokal, Potensi Ekonomi Baru

Bagi Pemkab Nunukan, pengembangan kerajinan tidak hanya berkaitan dengan pelestarian budaya, tetapi juga memiliki dimensi ekonomi.

Ketika produk lokal mampu memiliki kualitas dan daya saing, terbuka peluang bagi tumbuhnya aktivitas ekonomi baru yang melibatkan perajin, pelaku UMKM, desainer, pemasok bahan baku hingga sektor pendukung lainnya.

Kriyanusa menjadi ruang penting untuk mempertemukan para perajin Nunukan dengan konsumen, pelaku usaha, komunitas kreatif dan calon mitra dari berbagai daerah. Para perajin juga dapat melihat secara langsung perkembangan desain, tren produk, kebutuhan konsumen dan pola pemasaran yang berkembang di industri kerajinan.

Karena itu, keikutsertaan dalam pameran nasional tidak hanya dilihat dari banyaknya produk yang ditampilkan, tetapi juga dari jejaring dan pengetahuan baru yang dapat dibawa pulang untuk memperkuat pengembangan usaha di Nunukan.

Kreativitas yang Inklusif

Hal menarik lainnya dalam partisipasi Nunukan adalah hadirnya karya desainer tangan penyandang disabilitas.

Kehadiran karya tersebut memperlihatkan bahwa industri kreatif dapat menjadi ruang yang terbuka bagi siapa saja untuk berkarya dan menghasilkan sesuatu yang bernilai.

Kreativitas tidak mengenal batas latar belakang. Dengan dukungan yang tepat, setiap individu memiliki kesempatan untuk mengembangkan kemampuan, menciptakan karya dan berkontribusi dalam penguatan ekonomi kreatif daerah.

Semangat inklusivitas tersebut menjadi bagian dari wajah kerajinan Nunukan yang tidak hanya berbicara mengenai produk, tetapi juga tentang manusia di balik setiap karya.

Membawa Cerita Nunukan dari Wilayah Perbatasan

Keikutsertaan di Kriyanusa juga memiliki makna tersendiri bagi Nunukan sebagai salah satu wilayah perbatasan Indonesia.

Ketika Batik Lulantatibu, anyaman rotan dan berbagai karya kreatif lainnya hadir di panggung nasional, yang diperkenalkan bukan hanya sebuah produk. Ada cerita tentang masyarakat perbatasan, kekayaan budaya, keterampilan para perajin dan potensi daerah yang selama ini tumbuh dari wilayah paling utara Indonesia.

Dari tangan perajin, identitas Nunukan diterjemahkan menjadi karya yang dapat dikenakan, digunakan dan dinikmati oleh masyarakat luas.

Inilah kekuatan ekonomi kreatif: mengubah kekayaan budaya menjadi karya bernilai tanpa kehilangan akar identitasnya.

Dari Karya Lokal Menuju Pasar yang Lebih Luas

Pemkab Nunukan melalui Dekranasda terus mendorong agar para perajin tidak berhenti pada kemampuan menghasilkan produk. Penguatan kualitas, inovasi desain, kemasan, promosi dan pemasaran menjadi bagian penting agar produk lokal memiliki peluang memasuki pasar yang lebih luas.

“Jangan takut bermimpi besar. Setiap karya yang dibuat dengan sungguh-sungguh memiliki kesempatan untuk dikenal lebih luas. Mari kita jadikan kerajinan sebagai kekuatan ekonomi sekaligus kebanggaan daerah,” tegas Andi Annisa.

Kriyanusa 2026 akhirnya menjadi lebih dari sekadar sebuah pameran. Ia menjadi ruang belajar, ruang bertemu, ruang berjejaring sekaligus ruang untuk membangun kepercayaan diri bahwa karya dari daerah perbatasan pun mampu berdiri sejajar di panggung nasional.

Dari Nunukan, budaya dijaga. Dari tangan perajin, kreativitas tumbuh. Dari karya lokal, peluang ekonomi dibuka. Dan dari wilayah perbatasan, cerita tentang kekayaan Indonesia terus dibawa ke dunia. (*/adv)

Bagikan:
Berita Terkait