NUNUKAN, tanjungselor.id — Semarak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-27 Kabupaten Nunukan semakin terasa. Tidak hanya menghadirkan berbagai hiburan dan kegiatan masyarakat, rangkaian perayaan tahun ini juga menjadi ruang untuk menghidupkan kembali olahraga serta permainan tradisional yang tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat.
Salah satunya melalui Festival Olahraga Tradisional yang digelar pada 3–4 Oktober 2026. Kegiatan yang dimulai sejak pukul 08.00 WITA tersebut menghadirkan sejumlah perlombaan yang mengedepankan kekompakan, ketangkasan, sportivitas, sekaligus kegembiraan.
Berbagai olahraga dan permainan tradisional dilombakan, di antaranya bakiak, asinan, lari batok kelapa, serta balok langkah estafet. Pesertanya pun cukup beragam, mulai dari siswa sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), sekolah menengah atas (SMA), hingga kategori umum.
Pada lomba bakiak, misalnya, kategori SD diikuti 18 regu putra dan 18 regu putri. Sementara tingkat SMP diikuti enam regu putra dan empat regu putri. Adapun kategori SMA/umum diikuti 12 regu putra dan sembilan regu putri.
Riuh sorak peserta dan pendukung mewarnai jalannya perlombaan. Di tengah cuaca yang cukup cerah dan panas, semangat peserta justru tidak surut. Anak-anak tampak antusias mengikuti setiap tantangan, sementara guru, teman, keluarga, dan masyarakat turut memberikan dukungan dari sisi lintasan.
Dalam lomba bakiak, kemenangan tidak semata ditentukan oleh kecepatan. Setiap anggota regu harus mampu menyatukan langkah, menjaga keseimbangan dan mengikuti ritme bersama. Sedikit saja kehilangan kekompakan, langkah dapat terhenti dan memengaruhi hasil perlombaan.
Ketua pelaksana kegiatan olahraga tradisional, Ayub, mengatakan festival tersebut tidak hanya mempertandingkan bakiak dan asinan. Dua perlombaan lainnya, yakni lari batok kelapa dan balok langkah estafet, juga diperuntukkan bagi peserta tingkat SD dan SMP.
“Tujuannya mengenalkan olahraga tradisional ini kepada anak-anak. Ternyata antusias anak-anak luar biasa, mereka banyak yang mendaftar dan langsung ikut lomba,” ujar Ayub, Sabtu (3/10/2026).
Menurutnya, tingginya partisipasi peserta menjadi gambaran bahwa permainan tradisional masih memiliki tempat di tengah generasi muda apabila dikemas dalam kegiatan yang menarik dan kompetitif.
Semangat melestarikan budaya juga tampak dalam kehadiran Yameto dan Lukiwol, yang turut menjadi warna dalam rangkaian perayaan HUT ke-27 Kabupaten Nunukan.
Kehadiran kesenian dan permainan tradisional tersebut memperkaya suasana perayaan. HUT Kabupaten Nunukan tidak hanya menjadi momentum untuk mengenang perjalanan daerah, tetapi juga menjadi kesempatan untuk memperkenalkan kekayaan tradisi lokal kepada generasi penerus.
Festival olahraga tradisional, Yameto dan Lukiwol menghadirkan pesan yang sama: bahwa kemajuan daerah tidak harus membuat masyarakat meninggalkan akar budayanya.
Justru di tengah perkembangan olahraga modern dan hiburan digital, permainan tradisional dapat menjadi sarana mempertemukan masyarakat secara langsung. Anak-anak belajar bekerja sama, menghargai lawan, menjaga sportivitas dan menikmati proses bermain bersama.
Nilai-nilai tersebut menjadi bagian penting dari semangat peringatan HUT ke-27 Kabupaten Nunukan. Perayaan tidak sekadar menghadirkan kemeriahan, tetapi juga membuka ruang bagi masyarakat untuk mengenal, menikmati dan menjaga warisan budaya daerah.
Bagi generasi muda, permainan seperti bakiak, lari batok kelapa, balok langkah estafet, maupun berbagai tradisi lokal lainnya bukan sekadar permainan masa lalu. Di dalamnya terdapat nilai kebersamaan, ketekunan, keseimbangan, keberanian, kreativitas dan gotong royong.
Karena itu, Festival Olahraga Tradisional serta penampilan Yameto dan Lukiwol diharapkan tidak berhenti sebagai bagian dari agenda perayaan HUT Kabupaten Nunukan. Kegiatan tersebut dapat menjadi momentum untuk terus memperkenalkan dan mengembangkan tradisi lokal secara berkelanjutan.
Dengan demikian, semarak HUT ke-27 Kabupaten Nunukan tidak hanya meninggalkan kemeriahan sesaat, tetapi juga menghadirkan pengalaman budaya yang dekat dengan masyarakat dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Dari lapangan permainan hingga panggung budaya, HUT ke-27 Kabupaten Nunukan menjadi ruang bersama untuk merayakan kebersamaan sekaligus merawat identitas daerah. (*)





