TARAKAN, tanjungselor.id – Hari Buku Nasional sejatinya bukan sekadar seremoni tahunan atau perayaan simbolik tentang pentingnya membaca. Lebih dari itu, momentum ini menjadi pengingat bahwa karya-karya baru harus terus lahir, tumbuh, dan memberi manfaat bagi masyarakat.
Semangat itulah yang coba diwujudkan oleh Muhammad Ramli, Juara II Duta Baca Kalimantan Utara (Kaltara), melalui gerakan literasi yang ia bangun bersama para santri di Kota Tarakan.
Pria yang juga dikenal sebagai Founder mudahmenulis.id tersebut membuktikan bahwa literasi tidak hanya berhenti pada budaya membaca, tetapi juga harus melahirkan keberanian untuk menulis dan berkarya.
Di balik aktivitasnya sebagai pegiat literasi, Muh. Ramli sehari-hari merupakan guru di SMP IT Ibnu Abbas Tarakan. Dari ruang-ruang kelas sederhana itulah, ia menanamkan keyakinan kepada para santri bahwa setiap orang memiliki cerita yang layak dituliskan.
Bagi Ramli, menulis bukan hanya soal kemampuan merangkai kata. Menulis adalah proses mengenali diri, menyampaikan gagasan, sekaligus meninggalkan jejak pemikiran yang bermanfaat bagi orang lain.
“Santri tidak hanya harus rajin membaca, tetapi juga berani menulis. Karena tulisan adalah warisan pemikiran yang bisa terus hidup,” ungkapnya.
Semangat itu kemudian diterjemahkan melalui program pendampingan menulis yang ia lakukan secara intensif selama satu bulan. Dalam 10 kali pertemuan, para santri dibimbing mulai dari tahap paling dasar, bahkan dari rasa takut dan bingung saat memulai menulis.
Muh. Ramli menggunakan pendekatan yang sederhana namun menyentuh. Ia mengajak para santri memahami alasan mengapa mereka perlu menulis, membangun pola pikir positif, hingga melatih mereka menyusun kalimat dan paragraf pertama.
Perlahan, para santri yang awalnya ragu mulai percaya diri menuangkan pengalaman, kenangan, dan perasaan mereka ke dalam tulisan.
Hasilnya pun menjadi kebanggaan tersendiri. Dari proses pendampingan tersebut, lahirlah tiga buku karya para santri, yakni Tentang Keluarga yang Selalu di Hati, Hal-Hal yang Selalu Ingin Kuingat, dan Bayi Kecil Itu, Telah Bertumbuh.
Ketiga buku itu bukan hanya kumpulan tulisan biasa. Di dalamnya tersimpan kisah, harapan, dan sudut pandang para santri yang selama ini mungkin belum pernah mereka ungkapkan. Proses melahirkan buku tersebut juga menjadi pengalaman berharga yang membangun rasa percaya diri mereka sebagai generasi muda.
Ramli berharap gerakan literasi seperti ini bisa terus tumbuh dan dimulai sejak usia dini. Menurutnya, generasi muda harus dibiasakan untuk berpikir kritis, berani menyampaikan ide, dan aktif berkarya agar kelak mampu memberi kontribusi positif bagi daerah maupun bangsa.
“Kalau anak-anak muda mulai mencintai literasi sejak sekarang, maka mereka akan tumbuh menjadi generasi yang siap membawa perubahan,” katanya.
Apa yang dilakukan Muh. Ramli mendapat apresiasi dari Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Kaltara, Ilham Zein. Ia menilai langkah yang dilakukan Duta Baca Kaltara tersebut menjadi contoh nyata bahwa gerakan literasi dapat dimulai dari lingkungan terdekat, termasuk sekolah.
Ilham berharap, upaya yang dilakukan Muh. Ramli mampu menginspirasi lebih banyak anak muda di Kalimantan Utara untuk ikut menghidupkan budaya membaca dan menulis.
Menurutnya, pembangunan literasi di Bumi Benuanta–sebutan Kaltara, tidak cukup hanya mengandalkan program pemerintah, tetapi juga membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat, guru, komunitas, hingga generasi muda.
“Semangat seperti ini yang perlu terus ditularkan. Literasi bukan hanya tentang membaca buku, tetapi bagaimana melahirkan generasi yang kreatif, berpikir maju, dan mampu menghasilkan karya,” ujarnya.
Di tengah derasnya arus media sosial dan budaya instan, langkah kecil dari ruang kelas di Tarakan itu menjadi bukti bahwa literasi masih memiliki harapan besar. Dari tangan seorang guru dan keberanian para santri menulis cerita mereka sendiri, lahirlah pesan sederhana: buku akan selalu hidup selama masih ada orang-orang yang mau menulis dan berbagi cerita. (*)





