JAKARTA, tanjungselor.id – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Utara (Kaltara) mulai mengarahkan investasi dan pertumbuhan industri di daerah agar memberikan dampak yang lebih nyata terhadap pelaku usaha lokal. Salah satu langkah yang ditempuh melalui inovasi Sistem Integrasi Nilai Ekonomi Rantai Global Industri untuk Kalimantan Utara (SINERGI KALTARA).
Sekretaris Daerah Provinsi (Sekprov) Kaltara, H. Denny Harianto, S.E., M.M., menuntaskan tahapan jangka pendek proyek perubahan tersebut. Capaian itu dipaparkan dalam Seminar Implementasi Proyek Perubahan di ASN Corporate University, Lembaga Administrasi Negara (LAN) RI, Jakarta, Selasa (1/9/2026).
Pada tahap awal, SINERGI KALTARA telah menghasilkan sejumlah fondasi penting. Di antaranya pembentukan Forum Koordinasi Multipihak (FKM), pemetaan kebutuhan industri, pembangunan platform digital, penerbitan regulasi kemitraan, serta penandatanganan nota kesepahaman antara Pemprov Kaltara dengan PT Kaltara Industrial Park Indonesia (KIPI) dan PT PKN.
Capaian tersebut diarahkan untuk menjawab salah satu persoalan penting dalam pembangunan daerah: bagaimana memastikan pertumbuhan investasi dan industri tidak berhenti pada nilai investasi semata, tetapi juga menciptakan ruang bagi pelaku usaha lokal.
Melalui SINERGI KALTARA, pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) didorong memiliki akses yang lebih jelas terhadap kebutuhan rantai pasok industri. Dengan demikian, UMKM tidak hanya menjadi penonton di tengah ekspansi kawasan industri, tetapi dapat mengambil peran sebagai pemasok barang maupun jasa sesuai standar yang dibutuhkan industri.
Gubernur Kaltara Dr. H. Zainal A. Paliwang, S.H., M.Hum., selaku mentor proyek perubahan, menegaskan Pemprov Kaltara akan terus mengawal implementasi program tersebut.
“SINERGI KALTARA menjadi langkah nyata untuk menghubungkan potensi lokal dengan pertumbuhan industri. Kita ingin investasi yang masuk ikut meningkatkan kesejahteraan UMKM Kaltara,” tegas Zainal.
Menurutnya, keberadaan investasi harus memiliki keterkaitan yang kuat dengan ekonomi masyarakat. Karena itu, pemerintah tidak cukup hanya menarik investasi, tetapi juga perlu memastikan pelaku usaha lokal memiliki kapasitas untuk masuk ke dalam ekosistem industri.
Dalam seminar tersebut, Denny memaparkan bahwa penyelesaian target jangka pendek bukanlah akhir dari SINERGI KALTARA. Program akan dilanjutkan dengan penguatan kapasitas dan sertifikasi produk UMKM, perluasan platform digital, serta pengembangan kemitraan dengan perusahaan industri di kawasan ekonomi Kaltara.
Pendampingan UMKM juga akan diperkuat. Fokusnya mencakup peningkatan kualitas produk, perbaikan kemasan, manajemen usaha, digitalisasi, hingga akses pembiayaan.
Untuk memperkuat langkah tersebut, Pemprov Kaltara akan melibatkan berbagai pihak, termasuk lembaga keuangan, perguruan tinggi dan asosiasi dunia usaha.
“Melalui SINERGI KALTARA, kami ingin memastikan UMKM Kaltara tidak hanya menjadi penonton, tetapi ikut menjadi pelaku utama yang berdaya saing dalam rantai pasok industri global,” ujar Denny.
Seminar tersebut turut dihadiri Dr. Ir. Robinson Hasoloan Sinaga, S.H., LL.M. sebagai coach dan Dr. Andi Taufik, M.Si. sebagai narasumber.
Ke depan, tantangan SINERGI KALTARA bukan sekadar membangun forum atau platform digital, melainkan memastikan mekanisme tersebut benar-benar menghasilkan kemitraan dan transaksi yang memberi manfaat bagi pelaku usaha lokal.
Jika dijalankan secara konsisten, SINERGI KALTARA diharapkan dapat memperkuat keterlibatan UMKM dalam rantai pasok industri sekaligus menjadi model pembangunan ekonomi daerah yang lebih inklusif, terintegrasi, dan berdaya saing. (dkisp)





