GORONTALO, tanjungSelor.id – Langkah Bupati Nunukan H. Irwan Sabri bersama rombongan setibanya di Bandara Jalaluddin Gorontalo, Rabu (18/6/2026), tidak hanya menandai keikutsertaan Kabupaten Nunukan dalam Pekan Nasional (Penas) Petani Nelayan XVII Tahun 2026. Lebih dari itu, kedatangan mereka menjadi momentum perjumpaan dua kekayaan budaya Nusantara yang sarat nilai penghormatan, persaudaraan, dan kearifan lokal.
Begitu tiba di tanah Gorontalo, Bupati Nunukan dan rombongan disambut melalui Upacara Adat Mopotilolo, sebuah tradisi penyambutan tamu kehormatan yang telah diwariskan turun-temurun oleh masyarakat adat Gorontalo.
Prosesi sakral tersebut menjadi simbol penghormatan kepada tamu yang baru pertama kali menginjakkan kaki di daerah yang dikenal dengan filosofi adat “Adati Hula-Hulaa To Saraa, Saraa Hula-Hulaa To Kitabullah” atau adat bersendikan syariat, syariat bersendikan Kitabullah.
Suasana khidmat mulai terasa ketika Hanthalo Ulipu atau genderang adat ditabuh. Dentuman genderang seakan menjadi penanda bahwa tamu istimewa telah hadir dan diterima dengan penuh kehormatan oleh masyarakat Gorontalo.
Bagi rombongan dari Kabupaten Nunukan, prosesi tersebut menghadirkan pengalaman budaya yang berkesan. Jika masyarakat Nunukan memiliki tradisi penyambutan tamu melalui prosesi Tepung Tawar yang sarat doa dan harapan baik, maka masyarakat Gorontalo menyambut tamu melalui rangkaian ritual adat yang penuh makna filosofis.
Tahapan pertama dalam upacara adat Mopotilolo adalah Mopodungga Lo Tilolo, yaitu penyajian sekapur sirih kepada tamu kehormatan. Bagi masyarakat Gorontalo, sirih bukan sekadar suguhan, melainkan simbol penghormatan, persahabatan, dan ucapan selamat datang yang tulus.
Melalui prosesi ini, masyarakat adat menyampaikan rasa syukur sekaligus penghargaan kepada tamu yang berkunjung ke Gorontalo. Sebuah pesan bahwa tamu bukan hanya datang sebagai peserta kegiatan, tetapi diterima sebagai bagian dari keluarga besar masyarakat Gorontalo.
Prosesi kemudian berlanjut ke Mopodungga Lo Uyilomu, yakni penyajian minuman dan kue tradisional khas Gorontalo. Namun, di balik hidangan yang tersaji, tersimpan filosofi kehidupan yang mendalam.
Suguhan tersebut melambangkan empat unsur utama kehidupan, yakni Huta (tanah), Taluhu (air), Dupoyo (angin), dan Tulu (api). Keempat unsur itu diyakini sebagai sumber kehidupan yang menyatukan manusia dengan alam semesta.
Makna yang ingin disampaikan adalah bahwa para tamu telah diterima secara resmi oleh masyarakat adat Gorontalo dan memperoleh restu untuk berada serta beraktivitas di wilayah tersebut.
Prosesi berikutnya adalah Mopotowuli Lo Tania Lo Uyilumo, yaitu pengembalian perlengkapan sajian minum yang menjadi simbol berakhirnya rangkaian penyambutan. Sebelum upacara ditutup, para ulama dan pemangku adat membacakan doa bersama sebagai harapan agar para tamu senantiasa diberikan keselamatan, kesehatan, dan kelancaran selama berada di Gorontalo.
Rangkaian tersebut kemudian disempurnakan dengan prosesi mongabi, yang menandakan selesainya upacara adat secara utuh dan sempurna.
Bagi Bupati Nunukan dan rombongan, penyambutan tersebut menjadi gambaran nyata betapa Indonesia memiliki kekayaan budaya yang luar biasa. Tradisi yang berbeda-beda di setiap daerah sejatinya memiliki satu tujuan yang sama, yakni memuliakan tamu, mempererat persaudaraan, dan menjaga harmoni antarsesama.
Kehadiran Kabupaten Nunukan di Gorontalo sendiri merupakan bagian dari partisipasi dalam Pekan Nasional (Penas) Petani Nelayan XVII Tahun 2026 yang berlangsung di Limboto pada 20 hingga 25 Juni 2026.
Pada ajang nasional tersebut, Kabupaten Nunukan mengirimkan sebanyak 80 peserta yang terdiri dari petani dan nelayan. Mereka akan mengikuti berbagai kegiatan, mulai dari temu usaha, pameran teknologi pertanian, pertukaran pengetahuan, hingga penguatan jaringan antarpelaku sektor pertanian dan perikanan dari seluruh Indonesia.
Bagi para peserta dari perbatasan Indonesia-Malaysia itu, keikutsertaan dalam Penas bukan sekadar menghadiri agenda nasional. Lebih dari itu, mereka membawa semangat masyarakat Nunukan untuk belajar, berbagi pengalaman, sekaligus memperkenalkan potensi daerah kepada Indonesia.
Di tengah keberagaman budaya Nusantara, penyambutan hangat melalui Upacara Adat Mopotilolo menjadi pengingat bahwa perbedaan bukanlah sekat, melainkan jembatan yang memperkuat persatuan bangsa. Dari Gorontalo untuk Nunukan, terjalin pesan persaudaraan yang melampaui batas wilayah, disatukan oleh nilai luhur budaya Indonesia yang tetap hidup dan terjaga hingga kini. (*)





