Lomba Desain Batik Lulantatibu Buka Peluang Talenta Baru di Nunukan

Senin, 5 Oktober 2026 06:35 WITA

NUNUKAN, tanjungselor.id— Lomba Desain Batik Lulantatibu yang digelar Pemerintah Kabupaten Nunukan tidak hanya menjadi ajang kreativitas, tetapi juga membuka ruang untuk menemukan talenta-talenta baru di bidang desain batik.

Lomba tersebut digelar di GOR Dwi Kora Nunukan, Minggu (4/10/2026), dengan jumlah peserta yang meningkat dibandingkan pelaksanaan tahun sebelumnya, tahun ini, peserta berasal dari kategori pelajar dan umum.

Salah satu anggota dewan juri, Reimita, mengatakan peserta diberikan waktu maksimal dua jam untuk menyelesaikan desain, peserta juga dibekali perlengkapan serta referensi motif dasar Lulantatibu yang menjadi dasar pengembangan karya.

“Waktu yang diberikan paling lama dua jam, kalau sebelum dua jam sudah selesai, tidak apa-apa, yang penting jangan lewat dari waktu yang ditentukan,” kata Reimita, Minggu (4/10/2026).

Menurutnya, kreativitas menjadi salah satu aspek utama dalam penilaian, juri melihat bagaimana peserta menata dan menempatkan motif sehingga menghasilkan desain yang menarik untuk diterapkan pada kain batik.

“Kriterianya tentu kreativitas, terutama bagaimana menata atau menempatkan motif karena ini desain motif untuk kain batik,” jelasnya.

Selain kreativitas desain, penggunaan busana Lulantatibu juga menjadi bagian yang diperhatikan dalam perlombaan, peserta yang mengenakan busana Lulantatibu mendapatkan penilaian tersendiri sesuai ketentuan yang telah ditetapkan panitia.

Dalam hal pewarnaan, peserta diberikan ruang untuk menunjukkan kreativitasnya, namun, terdapat arahan warna yang telah ditentukan berdasarkan hasil pembelajaran dan kesepakatan sebelumnya.

Reimita menjelaskan, perbedaan pilihan warna dari peserta tetap akan dilihat berdasarkan hasil akhirnya, jika ada karya yang menggunakan warna berbeda tetapi menghasilkan tampilan yang lebih baik, aspek tersebut tetap menjadi pertimbangan juri.

“Kalau hasilnya lebih bagus dari yang sudah ditentukan pewarnanya, tentu yang terbaik itu yang kita ambil,” ujarnya.

Menariknya, sebagian peserta lomba ternyata bukan orang yang selama ini bekerja sebagai desainer atau pengrajin batik.

Menurut Reimita, peserta berasal dari beragam latar belakang, termasuk guru dan pegawai.

Kondisi tersebut justru memperlihatkan bahwa kegiatan ini mampu membuka potensi yang sebelumnya belum terlihat.

“Di sini saya melihat ada guru, ada pegawai, dan mungkin di sinilah kita melihat kelebihan mereka, ternyata mereka punya bakat yang terpendam,” ungkapnya.

Sebagai pengrajin sekaligus pemilik usaha batik, Reimita melihat potensi tersebut dapat dikembangkan menjadi peluang kerja sama, peserta yang menghasilkan karya terbaik berpeluang dilibatkan dalam pekerjaan desain ketika pengrajin membutuhkan tenaga tambahan.

“Kami sebagai owner batik sangat senang dan bangga dengan kegiatan seperti ini, kami juga akan melihat mana yang terbaik. Kalau ada orderan, mungkin bisa kami berikan pekerjaan tambahan, freelance,” katanya.

Menurutnya, kebutuhan terhadap tenaga yang memiliki kemampuan menggambar dan menata desain memang masih terbuka, selama ini, pengrajin batik kerap harus mengembangkan desain secara bersama-sama karena keterbatasan tenaga khusus di bidang tersebut.

Karena itu, keberadaan lomba desain dinilai dapat menjadi salah satu cara mempertemukan potensi kreatif masyarakat dengan kebutuhan industri batik lokal.

Antusiasme peserta tahun ini juga meningkat dibandingkan tahun sebelumnya, jika pada pelaksanaan sebelumnya jumlah peserta sekitar 30 orang, tahun ini jumlahnya mendekati 60 peserta.

Reimita berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan dan menjangkau lebih banyak peserta, termasuk masyarakat di desa-desa yang memiliki kemampuan menggambar dan mewarnai tetapi belum memiliki ruang untuk menunjukkan keterampilannya.

“Harapannya ke depan bisa diadakan lagi dan lebih banyak lagi yang ikut,” ujarnya.

Ia juga berharap pemerintah terus memberikan pembinaan kepada para pengrajin Batik Lulantatibu, termasuk membuka ruang kerja sama antara pengrajin dengan peserta lomba yang memiliki kemampuan desain.

Menurutnya, peserta terbaik dapat diarahkan untuk berkolaborasi dengan pengrajin sehingga kemampuan mereka tidak berhenti setelah lomba selesai, tetapi dapat berkembang menjadi keterampilan yang memiliki nilai ekonomi.

“Semoga pemerintah tetap dan terus membimbing dan memberikan binaan. Peserta yang juara bisa mungkin diarahkan untuk bekerja sama dengan para pengrajin batik,” katanya.

Lebih jauh, Reimita berharap Batik Lulantatibu tidak hanya semakin dikenal di Kabupaten Nunukan dan Kalimantan Utara, tetapi mampu menembus pasar yang lebih luas hingga tingkat nasional dan internasional.

Dengan bertemunya kreativitas generasi muda, kebutuhan pengrajin dan dukungan pemerintah, lomba desain Batik Lulantatibu diharapkan menjadi salah satu langkah untuk menjaga identitas budaya sekaligus membuka peluang baru bagi tumbuhnya talenta dan industri batik khas Nunukan. (*/adv)

Bagikan:
Berita Terkait