Di Balik Gelap Goa Berlapis, Tersimpan Harapan Baru Pariwisata Kaltara

Minggu, 31 Mei 2026 07:08 WITA

BULUNGAN, tanjungselor.id – Hutan Gunung Seriang masih diselimuti kabut tipis ketika langkah demi langkah mulai menembus rimbunnya pepohonan pada Sabtu (30/5). Sisa hujan semalam membuat tanah menjadi lembap dan licin. Akar-akar pohon menjulur di sepanjang jalur setapak, sementara bebatuan basah menjadi tantangan tersendiri bagi setiap orang yang melintas.

Namun pagi itu, perjalanan yang cukup berat bukanlah alasan untuk berhenti. Di balik belantara Gunung Seriang, tersimpan sebuah keajaiban alam yang selama ini hanya dikenal oleh sebagian masyarakat sekitar: Goa Berlapis.

Rasa penasaran terhadap potensi wisata yang tersimpan di dalamnya membawa Gubernur Kalimantan Utara, Dr. H. Zainal A. Paliwang, S.H., M.Hum., bersama Wakil Gubernur Ingkong Ala, S.E., M.Si., dan sejumlah kepala perangkat daerah menelusuri langsung kawasan tersebut.

Perjalanan menuju mulut goa menjadi gambaran nyata bahwa destinasi ini masih sangat alami. Belum ada akses yang benar-benar memadai. Setiap langkah harus dilakukan dengan hati-hati. Namun begitu mulut goa mulai terlihat di balik hijaunya hutan, rasa lelah perlahan berubah menjadi kekaguman.

Memasuki kawasan goa, suasana langsung berubah. Cahaya matahari yang sebelumnya menembus celah pepohonan perlahan menghilang. Udara sejuk menyambut dari dalam lorong-lorong batu yang terbentuk secara alami selama ribuan tahun.

Dinding-dinding goa menjulang dengan tekstur unik. Ornamen batu alam menghiasi langit-langit, membentuk pola-pola yang seolah dipahat oleh tangan seniman raksasa.

Setiap sudut menghadirkan pemandangan berbeda, menyimpan cerita panjang tentang proses alam yang berlangsung selama berabad-abad.

Di tengah penelusuran, rombongan menemukan sesuatu yang tidak biasa. Tumpukan batu di salah satu bagian goa ternyata mampu menghasilkan bunyi-bunyian merdu ketika diketuk perlahan. Nada yang keluar terdengar jernih dan berirama, menyerupai alat musik alami yang tersembunyi di dalam perut bumi.

“Yang menarik di sini ada batu berbunyi. Kita sudah mencobanya dan suaranya cukup bagus,” ujar Gubernur Zainal sambil menunjukkan ketertarikannya terhadap fenomena langka tersebut.

Keunikan batu bernada itu menjadi daya tarik tersendiri yang sulit ditemukan di banyak destinasi wisata lainnya. Bagi pemerintah daerah, keberadaan fenomena alam tersebut dapat menjadi identitas khas yang membedakan Goa Berlapis dari objek wisata goa lainnya di Indonesia.

Namun pesona Goa Berlapis tidak berhenti pada batu yang menghasilkan suara. Kawasan ini juga merupakan bagian dari sistem sekitar 22 goa yang saling terhubung dalam satu bentang alam karst. Potensi tersebut membuka peluang besar bagi pengembangan wisata petualangan, penelitian geologi, edukasi lingkungan, hingga wisata minat khusus yang saat ini semakin diminati wisatawan.

Melihat langsung kondisi di lapangan, Gubernur Zainal menilai Goa Berlapis memiliki prospek besar untuk dikembangkan sebagai destinasi unggulan Kalimantan Utara.

“Insyaallah ke depan gua ini akan kita jadikan salah satu destinasi wisata di Kabupaten Bulungan. Karena itu kami ingin melihat langsung apa yang perlu dipersiapkan,” katanya.

Pernyataan tersebut bukan sekadar wacana. Dalam beberapa tahun terakhir, Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara memang terus berupaya memperluas sektor pariwisata sebagai salah satu sumber pertumbuhan ekonomi baru di luar sektor pertambangan dan perkebunan.

Keberadaan Goa Berlapis menjadi bagian dari mozaik kekayaan alam Kaltara yang belum sepenuhnya tereksplorasi. Sebelumnya, Gubernur juga telah mengunjungi sejumlah destinasi alam lainnya seperti Goa Batu Benau yang dihuni Suku Punan Batu, kawasan karst Batu Putih, hingga Batu Tumpuk di Desa Panca Agung.

Potensi-potensi tersebut menunjukkan bahwa Bumi Benuanta memiliki modal besar untuk berkembang menjadi tujuan wisata berbasis alam dan budaya.

Meski demikian, pengembangan wisata tidak hanya berbicara tentang promosi dan pembangunan fasilitas. Ada tanggung jawab besar untuk menjaga kelestarian alam yang menjadi daya tarik utama kawasan tersebut.

Sebelum meninggalkan lokasi, Gubernur Zainal mengingatkan pentingnya menjaga keaslian Goa Berlapis agar tidak rusak akibat aktivitas manusia.

“Kita harap masyarakat yang datang ke sini jangan merusak, jangan mencoret-coret dinding, dan jangan mengotori tempat ini,” pesannya.

Pesan itu menjadi pengingat bahwa keindahan alam yang terbentuk selama ribuan tahun dapat hilang hanya dalam hitungan hari jika tidak dijaga bersama.

Menjelang siang, rombongan mulai meninggalkan kawasan goa. Cahaya matahari kembali menyambut dari sela-sela pepohonan. Namun kunjungan hari itu meninggalkan sesuatu yang lebih besar daripada sekadar pengalaman menjelajah alam.

Goa Berlapis mungkin masih tersembunyi di balik rimbunnya hutan Gunung Seriang. Jalannya masih sederhana, fasilitasnya masih terbatas, dan namanya belum banyak dikenal wisatawan luar daerah.

Tetapi dari lorong-lorong batu yang sunyi itu, tersimpan harapan besar bagi masa depan pariwisata Kalimantan Utara.

Sebuah harapan bahwa suatu saat nanti, Goa Berlapis tidak hanya menjadi kebanggaan masyarakat Bulungan, tetapi juga menjadi destinasi unggulan yang dikenal luas hingga tingkat nasional bahkan internasional.

Karena terkadang, cahaya masa depan justru lahir dari tempat-tempat yang selama ini tersembunyi dalam gelap. (dkisp)

Bagikan:
Berita Terkait