Kaltara–Sabah Perkuat Sinergi Perbatasan, Sidang SOSEK MALINDO Bahas Investasi hingga Ketahanan Pangan

Minggu, 2 Agustus 2026 05:22 WITA

TARAKAN, tanjungselor.id – Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) dan Pemerintah Negeri Sabah, Malaysia, kembali menegaskan komitmen memperkuat pembangunan kawasan perbatasan melalui Sidang ke-28 Kelompok Kerja Sosial Ekonomi Malaysia–Indonesia (KK/JKK SOSEK MALINDO) Tingkat Provinsi Kaltara–Peringkat Negeri Sabah Tahun 2026 yang digelar di Kayan Ballroom Hotel Tarakan Plaza.

Forum bilateral yang mempertemukan delegasi Indonesia dan Malaysia tersebut menjadi momentum penting untuk mengevaluasi pelaksanaan program kerja sama yang telah berjalan sekaligus menyusun agenda kolaborasi baru guna mendorong pertumbuhan ekonomi, konektivitas, dan kesejahteraan masyarakat di wilayah perbatasan.

Gubernur Kalimantan Utara, Dr. H. Zainal A. Paliwang, S.H., M.Hum., yang membuka persidangan menyampaikan apresiasi atas kehadiran Ketua JKK SOSEK MALINDO Negeri Sabah Datuk Dr. Jamili Nais, Konsul Republik Indonesia di Tawau, perwakilan Kementerian Dalam Negeri, Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP), serta jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kaltara.

“Merupakan suatu kehormatan bagi kami menjadi tuan rumah pada persidangan kali ini. Kehadiran seluruh delegasi mencerminkan komitmen bersama untuk terus memperkuat hubungan persahabatan dan kerja sama antara Indonesia dan Malaysia, khususnya Kalimantan Utara dan Negeri Sabah,” ujar Zainal.

Perbatasan Jadi Kawasan Strategis

Dalam sambutannya, Gubernur menegaskan hubungan Kaltara dan Sabah memiliki nilai strategis yang tidak hanya didasarkan pada kedekatan geografis, tetapi juga ikatan sejarah, budaya, dan hubungan sosial yang telah terjalin selama bertahun-tahun.

Aktivitas perdagangan lintas batas, pendidikan, hingga pertukaran sosial budaya dinilai telah menjadikan kawasan perbatasan sebagai ruang interaksi masyarakat yang terus berkembang dan memiliki potensi besar untuk didorong menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru.

Menurutnya, posisi Kalimantan Utara sebagai provinsi perbatasan sekaligus wilayah penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN) membuka peluang besar bagi peningkatan investasi, pembangunan infrastruktur, serta penguatan konektivitas dengan Sabah.

Proyek Strategis Jadi Magnet Investasi

Dalam forum tersebut, Zainal turut memaparkan berbagai proyek strategis nasional yang tengah dikembangkan di Kaltara, di antaranya Kawasan Industri Hijau Indonesia (KIHI), Kawasan Industri dan Pelabuhan Internasional (KIPI) Tanah Kuning–Mangkupadi, pembangunan PLTA Kayan Cascade, hilirisasi sektor perikanan dan rumput laut, serta pengembangan energi hijau.

Ia menilai berbagai proyek tersebut akan menjadi fondasi penting dalam memperkuat rantai pasok menuju IKN sekaligus meningkatkan daya saing kawasan perbatasan di tingkat regional.

“Potensi besar ini menjadi modal penting untuk mendukung rantai pasok IKN sekaligus memperkuat daya saing kawasan perbatasan agar tumbuh sebagai pusat ekonomi baru yang tangguh dan berkelanjutan,” katanya.

Fokus Perdagangan hingga Ketahanan Pangan

Sidang ke-28 SOSEK MALINDO merupakan tindak lanjut dari pertemuan sebelumnya yang diselenggarakan di Sandakan, Sabah, pada 2025. Selain mengevaluasi capaian program kerja, forum ini juga membahas berbagai kendala yang masih dihadapi guna meningkatkan efektivitas kerja sama lintas batas.

Pembangunan IKN, lanjut Zainal, turut membuka peluang kolaborasi yang lebih luas antara Kaltara dan Sabah, mencakup sektor perdagangan, investasi, logistik, ketenagakerjaan, pariwisata, hingga ketahanan pangan.

Di akhir sambutannya, Gubernur mengajak seluruh delegasi mengedepankan semangat musyawarah, saling menghormati, dan menghasilkan rekomendasi yang realistis serta dapat diimplementasikan.

“Kami berharap seluruh rekomendasi yang dihasilkan mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat perbatasan Indonesia dan Malaysia, sekaligus memperkuat hubungan bilateral kedua wilayah di masa mendatang,” pungkasnya. (*)

Bagikan:
Berita Terkait