Rahmawati Zainal Tampilkan Wastra Bulungan di Parade Kriyanusa 2026

Kamis, 1 Oktober 2026 10:58 WITA

JAKARTA, tanjungselor.id – Sehelai kain bukan sekadar busana. Di dalam motif, warna dan setiap detailnya tersimpan cerita tentang tanah, tradisi, dan identitas masyarakat yang mewarisinya.

Pesan itulah yang dibawa Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kalimantan Utara, Hj. Rahmawati Zainal, S.H., ketika tampil dalam Parade Wastra Kriyanusa 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta, Rabu (30/9).

Rahmawati tampil anggun mengenakan busana berbahan batik bermotif khas Bulungan, dipadukan dengan topi khas Dayak. Perpaduan tersebut menghadirkan karakter budaya Kaltara dalam balutan busana yang modern, sekaligus memperlihatkan bagaimana warisan tradisional dapat dikemas secara kreatif tanpa kehilangan identitasnya.

Di antara 32 peserta Parade Wastra, penampilan Rahmawati menjadi bagian dari rangkaian penutupan Kriyanusa 2026. Beragam busana yang ditampilkan dalam parade tersebut menjadi cermin kekayaan wastra Indonesia yang tumbuh dari keberagaman budaya daerah.

Membawa Cerita Bulungan ke Panggung Nasional

Bagi Kaltara, kehadiran Rahmawati dalam parade bukan sekadar penampilan busana. Ada upaya untuk memperkenalkan wastra dan identitas budaya Bulungan kepada masyarakat yang datang dari berbagai penjuru Indonesia.

Motif pada kain menjadi bagian dari cerita tentang daerah, sementara sentuhan kreativitas dalam desain memperlihatkan bahwa budaya dapat terus hidup mengikuti perkembangan zaman.

Semangat tersebut sejalan dengan penyelenggaraan Kriyanusa 2026 yang mengusung tema “Cipta Kriya Berkelanjutan, Perajin Mendunia”.

Kegiatan yang berlangsung pada 26–30 September 2026 tersebut menghadirkan 410 stan dengan 257 peserta, yang terdiri atas Dekranas, Dekranasda, kementerian dan lembaga, serta pelaku UMKM.

Dari Warisan Budaya Menjadi Karya Bernilai

Pengembangan wastra dan kriya, menurut Rahmawati, tidak cukup hanya dengan menjaga tradisi. Perajin juga perlu mendapatkan ruang untuk berkembang, berinovasi dan meningkatkan kualitas produknya.

“Perajin perlu terus dibina agar kualitas dan kreativitasnya meningkat. Dengan begitu, produk Kaltara bisa semakin dikenal dan bersaing di pasar yang lebih luas,” ujar Rahmawati.

Pembinaan tersebut mencakup berbagai aspek, mulai dari peningkatan kualitas produk, inovasi desain, pemilihan bahan baku hingga teknik pewarnaan.

Dengan pendekatan tersebut, produk kriya diharapkan tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga nilai tambah ekonomi yang dapat memberikan manfaat langsung bagi para perajin dan pelaku UMKM.

Kriya Kaltara, Kreativitas yang Berakar pada Budaya

Kehadiran Kaltara di Kriyanusa 2026 juga diperkuat dengan berbagai produk khas daerah, seperti anyaman rotan, singal, tenun dan batik bermotif Kaltara.

Ragam produk tersebut menunjukkan bahwa kekayaan kriya Kaltara tumbuh dari tangan-tangan kreatif masyarakat yang memanfaatkan kekayaan budaya dan sumber daya lokal.

Bagi Dekranasda Kaltara, pengembangan produk tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga agar warisan budaya tetap relevan dan memiliki masa depan.

Karena itu, promosi tidak hanya dilakukan melalui stan pameran. Parade Wastra menjadi ruang untuk membawa identitas budaya Kaltara dalam bentuk yang lebih hidup dan mudah dikenali, sekaligus mempertemukan karya daerah dengan masyarakat dan pelaku industri kreatif dari berbagai wilayah.

Kerajinan untuk Budaya dan Ekonomi Masyarakat

Rangkaian Kriyanusa 2026 secara resmi ditutup oleh Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian. Dalam sambutannya, Tito menekankan besarnya potensi kerajinan Indonesia yang perlu terus dikembangkan dari sisi kualitas dan kreativitas agar memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Ia juga mendorong pemerintah daerah dan Dekranasda untuk aktif menggali potensi kerajinan khas daerah. Pengembangan kriya dinilai tidak hanya penting bagi pelestarian budaya, tetapi juga dapat membuka lapangan kerja, memperkuat UMKM dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

Bagi Kaltara, pesan tersebut menjadi dorongan untuk terus memperkuat ekosistem kriya daerah. Wastra dan kerajinan tidak ditempatkan hanya sebagai warisan masa lalu, tetapi sebagai karya kreatif yang dapat tumbuh menjadi peluang ekonomi masa depan.

Melalui Kriyanusa 2026, Kaltara menunjukkan bahwa identitas budaya dapat hadir dengan wajah yang segar: tetap berakar pada tradisi, namun terbuka terhadap kreativitas dan inovasi.

Dan di panggung Parade Wastra, ketika batik khas Bulungan berpadu dengan topi Dayak yang dikenakan Rahmawati Zainal, cerita tentang Kaltara tidak hanya dikenakan—tetapi juga diperkenalkan, dirayakan, dan dibawa lebih jauh kepada Indonesia.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Menteri UMKM Maman Abdurahman beserta istri, Ketua Harian Dekranas Ny. Tri Tito Karnavian, serta anggota Seruni Kabinet Merah Putih. (dkisp)

Bagikan:
Berita Terkait