NUNUKAN, tanjungselor.id – Mewakili Bupati Nunukan H. Irwan Sabri, Asisten Administrasi Umum Sekretariat Daerah Kabupaten Nunukan Sirajudin secara resmi membuka kegiatan Simulasi Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) di SMP Negeri 1 Nunukan, Rabu (21/10).
Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) merupakan program untuk membangun kesiapsiagaan sekolah dalam menghadapi bencana sehingga risiko terhadap peserta didik, guru, tenaga kependidikan, serta sarana dan prasarana pendidikan dapat dikurangi. Dengan demikian, simulasi SPAB di SMP Negeri 1 Nunukan menjadi langkah penting untuk membiasakan warga sekolah bertindak cepat, tenang, dan tepat ketika bencana terjadi.
Dalam sambutan Bupati Nunukan yang disampaikan oleh Sirajudin, disampaikan bahwa bencana dapat terjadi kapan saja tanpa peringatan sehingga kesiapsiagaan harus dibangun sejak dini, termasuk di lingkungan sekolah. Oleh karena itu, simulasi ini bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan bentuk latihan nyata untuk meningkatkan kemampuan warga sekolah dalam menghadapi situasi darurat serta melindungi keselamatan jiwa.
Ia menegaskan bahwa sekolah harus menjadi tempat yang aman bagi seluruh peserta didik dan tenaga kependidikan. Sejalan dengan Permendikbud Nomor 33 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Program Satuan Pendidikan Aman Bencana, SMP Negeri 1 Nunukan diharapkan dapat menjadi contoh bagi sekolah lainnya di Kabupaten Nunukan dalam membangun budaya sadar bencana.
Untuk mewujudkan hal tersebut, sekolah perlu memiliki tim siaga bencana, jalur evakuasi yang jelas, titik kumpul yang aman, serta Standard Operating Procedure (SOP) yang dipahami oleh seluruh warga sekolah.
Ia juga menekankan pentingnya peran guru sebagai pelindung pertama bagi peserta didik ketika bencana terjadi. Guru dan tenaga kependidikan diharapkan mampu menjaga ketenangan, memberikan arahan yang tepat, serta memastikan proses evakuasi berlangsung dengan tertib dan aman.
Kepada para peserta didik, ia berpesan agar senantiasa memahami langkah-langkah penyelamatan diri. Saat terjadi gempa bumi, peserta didik diminta melindungi kepala, berlindung di bawah meja yang kokoh, dan mengikuti jalur evakuasi menuju titik kumpul setelah kondisi memungkinkan.
Ia juga mengajak para peserta didik untuk menerapkan pengetahuan yang diperoleh selama simulasi di lingkungan keluarga, termasuk menyusun rencana evakuasi bersama orang tua di rumah.
“Tangguh bukan berarti tidak takut. Tangguh adalah tetap bertindak dengan benar meskipun kita takut,” ucap Sirajudin.
Sementara itu, Kepala SMP Negeri 1 Nunukan Rustiningsih, mengatakan bahwa pada tahun 2026, kesiapsiagaan bencana dan perubahan iklim menjadi salah satu indikator tambahan dalam Rapor Pendidikan yang turut memengaruhi penilaian setiap satuan pendidikan.
Ia menjelaskan bahwa kegiatan simulasi tersebut merupakan tahap puncak dari rangkaian kegiatan yang sebelumnya diawali dengan sosialisasi selama tiga hari dan melibatkan sebanyak 853 siswa.
“Kegiatan ini merupakan tahapan puncak yang sebelumnya diawali dengan sosialisasi selama tiga hari. Dengan jumlah siswa sebanyak 853 orang, kami berharap kolaborasi antara instansi terkait dapat terus terjalin untuk meningkatkan mutu pendidikan di SMP Negeri 1 Nunukan,” ungkapnya.
Melalui kegiatan ini, Pemerintah Kabupaten Nunukan berharap seluruh warga sekolah semakin memahami risiko bencana dan mampu melakukan tindakan penyelamatan secara tepat ketika menghadapi keadaan darurat. (*/adv)





